Para Arsitek Pemikiran Komunisme
Ideologi ini tidak muncul begitu saja, melainkan hasil pemikiran beberapa tokoh kunci yang mencoba mengubah wajah dunia:
Karl Marx (1818–1883): Sang pemikir utama yang merumuskan bahwa sejarah manusia adalah sejarah pertentangan kelas.
Friedrich Engels (1820–1895): Sahabat sekaligus penyokong Marx yang membantu menyusun konsep-konsep sosialisme ilmiah.
Henk Sneevliet (1883–1942): Tokoh asal Belanda yang menjadi jembatan masuknya paham Marxisme ke Asia, termasuk Indonesia.
Semaoen (1899–1971): Pemimpin muda yang menjadi ikon awal gerakan ini di Indonesia, mengadaptasi ideologi global ke dalam konteks lokal.
Perbandingan Sistem: Di Mana Posisi Komunisme?
Untuk memahami perbedaannya dengan sistem lain, kita bisa melihatnya melalui tabel berikut:
| Fitur | Kapitalisme | Sosialisme | Komunisme |
| Kepemilikan | Individu/Swasta bebas memiliki aset. | Negara/Kolektif mengontrol sektor penting. | Semua milik publik, tidak ada milik pribadi. |
| Pasar | Ditentukan oleh persaingan dan profit. | Diatur untuk kesejahteraan bersama. | Diatur sepenuhnya oleh negara. |
| Kelas Sosial | Ada perbedaan kelas (kaya-miskin). | Berusaha mengurangi celah perbedaan. | Menghapuskan semua kelas sosial. |
Prinsip Operasional dalam Masyarakat Komunis
Berdasarkan Manifesto Komunis, terdapat beberapa ciri khas bagaimana sistem ini seharusnya bekerja:
Sentralisasi Ekonomi: Negara memegang kendali penuh atas modal, transportasi, dan alat komunikasi.
Penghapusan Properti Pribadi: Tidak ada hak milik atas tanah atau hak waris, guna mencegah penumpukan kekayaan di satu tangan.
Keadilan Pendidikan: Menghapuskan pekerja anak dan memberikan akses sekolah gratis bagi semua anak.
Distribusi Berbasis Kebutuhan: Setiap orang berkontribusi sesuai keahliannya, dan menerima hasil sesuai kebutuhan hidupnya.
Tantangan dan Paradoks
Secara teori, komunisme menjanjikan surga tanpa kasta. Namun, sejarah menunjukkan bahwa tanpa mekanisme politik yang jelas, upaya ini sering kali terjebak dalam pemerintahan otoriter. Kekuasaan yang seharusnya ada di tangan rakyat sering kali terpusat pada segelintir elit partai, yang justru menciptakan ketimpangan baru.
Kesimpulan
Komunisme ibarat sebuah sistem lumbung desa raksasa. Tidak peduli siapa yang paling giat mencangkul atau siapa yang memiliki benihnya, seluruh hasil panen harus dimasukkan ke dalam lumbung pusat. Petugas lumbung (negara) kemudian membagikannya kepada setiap warga agar tidak ada yang kelaparan. Namun, efektivitas sistem ini sangat bergantung pada kejujuran sang "penjaga lumbung" dan kerelaan warga untuk bekerja tanpa ambisi pribadi.
