warungbede -- Kejatuhan Venezuela merupakan sebuah studi kasus tentang bagaimana populisme yang ekstrem dan kerakusan kekuasaan dapat melumpuhkan sebuah negara kaya. Krisis ini bermula dari era Hugo Chavez (1999-2013) hingga berlanjut di bawah kepemimpinan Nicolas Maduro (2013-2026), menciptakan lingkaran korupsi dan represi yang mendalam.
Awal Mula Sang Mesias Rakyat
Hugo Chavez muncul sebagai antitesis dari sistem politik lama yang dianggap korup. Meski sempat gagal dalam kudeta militer tahun 1992, ia berhasil merebut hati rakyat melalui jalur demokrasi dengan mendirikan Partai MVR (Gerakan Republik Kelima).
Strategi Chavez sangat efektif: ia menggunakan narasi "Rakyat vs Elit" dan menjanjikan keadilan ekonomi bagi kaum miskin. Kemenangan besarnya pada Pemilu 1998 menandai dimulainya perombakan total struktur negara.
Taktik Perubahan Konstitusi
Karena menghadapi oposisi di Kongres, Chavez melakukan langkah cerdas namun berisiko:
Referendum Nasional: Membentuk Majelis Konstitusi baru yang didominasi pendukungnya (90% kursi).
Konstitusi 1999: Mengubah sistem parlemen menjadi satu kamar, memperpanjang masa jabatan, dan mengubah ideologi negara menjadi sosialis-nasionalis.
Reset Jabatan: Setelah konstitusi baru berlaku, jabatan politik "dihapus" dan pemilu ulang digelar, memberikan Chavez kontrol penuh atas pemerintahan.
Masa Keemasan yang Semu
Di bawah dukungan penuh parlemen, Chavez menasionalisasi perusahaan asing dan menggunakan pendapatan minyak untuk subsidi besar-besaran di sektor pangan, kesehatan, dan pendidikan. Hasilnya, kesenjangan ekonomi menurun tajam. Namun, di balik itu, ia terus memperkuat narasi bahwa siapa pun yang mengkritiknya adalah musuh rakyat atau agen asing.
Ambisi Tanpa Batas
Haus akan kekuasaan membuat Chavez mengubah aturan main. Melalui referendum tahun 2009, ia berhasil menghapuskan batasan periode jabatan presiden. Meski ia memenangkan pemilu 2012 secara sah, kesehatannya memburuk akibat kanker. Sebelum wafat pada 2013, ia menunjuk Nicolas Maduro sebagai pewaris takhtanya.
Era Maduro: Otoriterisme dan Kehancuran
Di bawah Maduro, keberhasilan ekonomi Chavez berubah menjadi bencana. Tanpa kharisma pendahulunya, Maduro menggunakan cara-cara keras untuk bertahan:
Manipulasi Bantuan Sosial: Mengancam mencabut bantuan bagi warga yang tidak memilihnya.
Represi Oposisi: Memenjarakan atau mengasingkan lawan politik agar tidak ada saingan sepadan.
Dukungan Militer: Membiarkan korupsi di tingkat birokrasi dan aparat demi menjaga loyalitas mereka.
Hilangnya Harapan Rakyat
Puncak frustrasi terjadi pada Pemilu 2024. Meskipun diklaim menang, legitimasi Maduro di mata rakyat dan dunia internasional telah hancur. Ketidakpercayaan yang mendalam membuat rakyat merasa tidak punya pilihan lain. Ironisnya, sebagian rakyat yang sudah muak justru melihat intervensi asing sebagai satu-satunya jalan keluar dari penderitaan panjang mereka.
Pelajaran bagi Dunia: Kasus Venezuela membuktikan bahwa popularitas seorang pemimpin yang tidak dibatasi oleh kontrol demokrasi yang kuat akan berakhir pada kediktatoran yang menghancurkan ekonomi dan martabat bangsa.
Kesimpulan: Harga Mahal Sebuah Kekuasaan Mutlak
Tragedi yang menimpa Venezuela memberikan kita sebuah pelajaran berharga: demokrasi yang sehat tidak hanya membutuhkan popularitas, tetapi juga pembatasan kekuasaan. Kehancuran negara ini bukanlah proses yang terjadi dalam semalam, melainkan akumulasi dari tiga faktor utama:
Manipulasi Hukum: Ketika konstitusi diubah berkali-kali hanya untuk melegitimasi perpanjangan masa jabatan, esensi demokrasi telah mati.
Ekonomi yang Dipolitisasi: Kebijakan populis dan subsidi besar-besaran memang menyenangkan rakyat dalam jangka pendek, namun tanpa pengelolaan yang transparan, hal itu hanya akan menjadi alat sandera politik yang menghancurkan struktur ekonomi jangka panjang.
Hilangnya Legitimasi: Saat pemerintah lebih sibuk menjaga loyalitas aparat dan militer daripada mendengarkan keluhan rakyat, maka pintu intervensi asing dan apatisme publik akan terbuka lebar.
Venezuela adalah pengingat bahwa di mana pun kekuasaan dibiarkan tanpa kendali, korupsi akan tumbuh subur, dan pada akhirnya, rakyatlah yang harus membayar harganya dengan kemiskinan dan hilangnya kebebasan.
